Friday, January 13, 2012

Meninggalkan Rolling Stone Indonesia

Halo Blogspot, saya punya kabar terbaru.

Entah ini kabar baik atau kabar buruk. Tergantung dari sisi mana kita memandang. Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di Rolling Stone Indonesia, setelah lebih dari tiga tahun bekerja di sana [sejak Mei 2008 tepatnya]. 

Hmm, dari mana mulainya ya. 

Sudah beberapa bulan atau hampir setahun terakhir ini, saya sibuk dengan pekerjaan sampingan sebagai penyiar dan MC. Sejak Agustus tahun terakhir malah sibuk menjadi stand up comedian. Nah, akhirnya tiba juga saya pada momen harus memilih antara tetap di kantor atau sibuk di luar kantor. Sebenarnya tak memilih juga sih, karena memang saya tak diberi pilihan, melainkan langsung dihadapkan pada situasi untuk meninggalkan kantor. 

Menjadi jurnalis di Rolling Stone [ingat ya, Rolling Stone, tanpa S, bukan Rolling Stones karena itu adalah nama band Mick Jagger dkk. Maaf mengoreksi, orang sering salah menulis soalnya.] adalah salah satu pekerjaan impian saya. Bahkan sebelum majalah ini terbit di Indonesia, saya sudah memimpikannya. Saat itu sih, saya tak pernah berpikir bahwa mimpi ini akan jadi kenyataan suatu hari nanti. Salah satu faktornya ya, waktu itu saya tak mengira bakal ada orang yang mau mengeluarkan uang begitu banyak untuk membayar lisensi majalah ini. Apalagi majalah musik punya catatan buruk, karena sebagian besar majalah musik tak mencapai umur sepuluh tahun, rata-rata malah berumur hanya lima tahun. 

Tapi ternyata mimpi itu terwujud. Mungkin benar pepatah atau apalah itu yang bilang, jika kamu bisa memimpikannya, maka kamu bisa mewujudkannya. Meskipun sampai sekarang saya bermimpi ingin bisa terbang seperti Superman tapi belum terwujud juga. Haha. 

Terlalu banyak kenangan manis yang bisa ditulis di sini. Singkatnya begini deh: bekerja di Rolling Stone itu adalah saya rasa mimpi sebagian besar pecinta musik yang juga ingin jadi jurnalis. Saya dibayar untuk melakukan pekerjaan yang saya suka di institusi bergengsi. Dibayar untuk mendengarkan musik, menonton konser, ngobrol dengan musisi, dan menuliskan itu semua. Selain jadi musisi yang laris manis, tentu saja itu menempati urutan kedua dalam konteks pecinta musik. Hehe. 

Oke, sekarang mari kita bicara mimpi saya berikutnya.

Saya selalu ingin menerbitkan buku. Memang, saya sudah punya dua buku. Yang satu adalah biografi tentang Michael Jackson berjudul The King Is Dead. Ini sebenarnya hanya terjemahan dari kumpulan tulisan tentang Jacko dari berbagai sumber dan dua buku. Saya menerima job ini murni karena uang. Apalagi waktu itu sedang dalam proses butuh uang muka buat menyicil rumah. Akhirnya, buku ini dikerjakan dalam waktu dua minggu! Heran juga dengan hasilnya. Mungkin juga karena waktu itu belum punya akun twitter, jadi lebih bisa fokus ya. Haha. 

Buku kedua adalah novel adaptasi dari film Generasi Biru karya Garin Nugroho. Ini film dengan bintang utama Slank. Filmnya tak disukai banyak orang, karena aneh. Tapi saya suka, karena di film ini, Garin membuat Slank menari sesuai koreografi. Dan ekspektasi saya terhadap film Garin memang sudah pasti pusing, jadi ya sudahlah, saya siap dengan kenyataan bahwa film itu membuat kening berkerut. 

Saya tak puas dengan dua buku itu, karena bukan murni karya saya. Makanya, sekarang saya sedang menyusun dua buku. Satu novel yang berdasarkan kehidupan saya sebagai jurnalis selama tujuh tahun. Satu lagi biografi band hardcore legendaris dari Bandung.

Selain jadi penulis buku, saya juga ingin punya acara bincang bincang di televisi. Saya rasa dengan kemampuan saya mewawancara dan sedikit cita rasa humor, saya bisa jadi pembawa acara yang baik. Yah mudah-mudahan ada petinggi televisi yang membaca ini.

Ya sudahlah, segitu saja dulu. 

10.50 WIB
Jakarta, Jumat, 13 Januari 2011. 
Dari meja kerja saya di lantai 3, kantor Rolling Stone Indonesia.

Monday, January 09, 2012

Menulis Lagi di Sini, Setelah Sekian Lama

Halo Blogspot, lama tak jumpa.

Maaf saya mengacuhkanmu selama beberapa tahun terakhir. Multiply sempat membuat saya berpaling darimu. Hehe. Sekarang saya rindu menulis di sini. Menulis blog yang tak berharap pamrih. Maklum, menulis di Multiply yang punya fasilitas untuk melihat siapa saja yang membaca tulisan kita, lama-lama membuat motivasi menulis jadi malah karena ingin dibaca.

Segini saja dulu ya. Mudah-mudahan keinginan untuk menulis di sini tumbuh lagi. Bagi saya, menulis di blogspot terasa lebih tulus. Karena tak tahu siapa yang telah membaca tulisan ini, jadi motivasi menulisnya karena memang hanya ingin menulis, bukan karena berharap respon orang.

Ah senang rasanya menulis kembali. 

Tapi maaf ya Blogspot, saya menodai pernyataan ingin menulis tanpa berharap orang membaca tulisan saya dengan memromosikan blog ini di twitter.

Tuesday, April 03, 2007

Tutup

Saya sudah malas lagi menulis di sini. Agak repot mengurus dua blog. Jadi, kalau kamu mau membaca tulisan terbaru saya, silakan lihat di http://solehsolihun.multiply.com/.

Bukan apa-apa, saya agak kesulitan kalau ingin memuat foto-foto di situs ini. Saya mendapatkan kemudahan itu di multiply.

Nah, saya tunggu kunjungan kamu.

Wednesday, February 14, 2007

Sedikit Soal Global TV

Kemarin malam baru dari syuting Made In Indonesia.

Itu loh, salahsatu acara Global TV. Ada satu band dikritisi oleh panelis yang terdiri antara musisi dan pelawak. Saya, Arian dan Pecuy datang ke Studio Guet di Perdatam jam setengah sembilan malam. Katanya, syuting bakal dimulai jam sembilan.

The Changcuters jadi target, Seurieus bintang tamunya.

Ternyata, pas kami datang, anak-anak The Changcuters masih loading alat ke panggung. Padahal, katanya mereka disuruh datang jam dua siang. Dan Seurieus disuruh datang jam lima sore.

“Sekitar jam sepuluh lah,” kata salah seorang kru Global TV ketika saya tanya kapan syuting akan dimulai.

Tapi, lewat jam sepuluh, syuting belum juga dimulai. Saya tidak tahu mana saja tim produksi Global TV. Dan melihat itu, saya jadi membandingkannya dengan tim produksi Empat Mata. Bukan apa-apa, tiga kali saya datang ke syuting Empat Mata, mereka tidak pernah lewat dari jadwal. Memang tidak adil juga membandingkan syuting talk show dengan syuting di mana ada band yang tampil live. Dan memang tidak adil juga menilai kinerja dari satu kali syuting saja.

Tapi, pemandangan malam tadi, membuat saya berpikir betapa kru Global TV tidak menunjukkan citra baik dan profesionalisme atau apapun itu. Dan betapa seragam berpengaruh besar terhadap citra baik sebuah televisi.

Kalau Trans TV dan Trans7 perbandingannya, jelas terasa. Saya sebagai orang luar, bisa melihat dengan jelas siapa saja kru dari TV. Kemarin malam, tidak jelas perbedaan antara karyawan TV dengan mamang-mamang atau teteh-teteh yang kebetulan di sana. Kecuali kalau saya mau lebih jeli melihat ID yang tergantung di dada atau di celana mereka.

Belum lagi, saya mendapat kesan kalau pekerjaan mereka sangat lambat. Padahal, acara itu bukan acara baru. Harusnya mereka sudah tahu dong, bagaimana proses syuting berjalan. Saya tidak melihat kesigapan mereka. Mungkin saya salah, tapi saya melihat mereka bekerja dengan lamban. Dan ini buat saya mengurangi citra positif Global TV.

Lewat tengah malam, syuting baru dimulai. Oke, saya sering mendengar cerita kalau syuting sinetron juga sering molor [dan kamu tau bagaimana kualitas sinetron kita]. Saya kurang paham soal teknisnya, tapi menurut saya, acara yang molor sangat jauh dari jadwal adalah sesuatu yang kurang baik. Dan ini membuat saya berpikir, pantas saja acara itu tidak berkembang dari segi kreatif.

Kurang jelas apa mau mereka. Membuat acara yang mengkritisi band atau membuat tayangan humor dengan basis musik? Belum lagi, hal mendasar yang sering mengganggu saya. Show director, floor director atau apapun itu istilahnya, beberapa kali menyebut nama Seurieus dengan “Seurieus Band”. Ah, saya paling sebal kalau orang menambahkan kata Band di belakang nama band. Jelas-jelas, si band itu tidak memakai kata band di belakangnya. Kalau Ada Band boleh lah dipanggil begitu.

Host-nya sih menggiurkan, Happy Salma. :p Sayang, Happy kurang maksimal di acara itu. Belum lagi, host laki-laki yang terlalu metro seksual. Harusnya, acara begitu dipandu orang seperti Ryan Pellor. Hehe.

Sialan. Saya jadi bersikap seolah-olah paling tau soal produksi sebuah tayangan di televisi. Ya mungkin kebetulan kalau ada yang baca, dan kenal dengan petinggi Global TV, tolong bilang sama mereka untuk memerbaiki lagi lah kinerja kru mereka.

Pantas saja Global TV tidak punya produksi lokal unggulan.

Thursday, January 18, 2007

20Q Christian Sugiono


Anak band yang jadi aktor bicara soal perempuan, sinetron dan bagaimana rasanya jadi pacar Titi Kamal


Q1

Anda bersekolah di Pangudi Luhur, yang muridnya laki-laki semua. Bagaimana peranan sekolah itu dalam membentuk karakter Anda sekarang?

Karena cowok semua, jadi lebih kompak. Di situ gue belajar arti pertemanan dan kesetiakawanan. Dari segi cewek, gue lebih belajar soal deketin cewek. Cowok semua, ngobrol apa lagi kan? Kami banyak diskusi soal perempuan. Jadi lebih banyak tahu soal perempuan. Bisa mengambil ilmu lah [tertawa].


Q2

Tipe remaja seperti apa Anda waktu SMA?

Gue tipe rata-rata sih, yang suka maen olahraga. Tapi, nggak jocks banget [tertawa]. Tiap istirahat maen voli sama basket. Oh lupa, gue tipe anak band. Gue nge-band melulu. Soalnya nggak ada kerjaan lain. Udah SMA, banyak pensi, banyak band competitor, jadinya lebih termotivasi untuk latihan.


Q3

Kenakalan remaja macam apa sih yang dulu Anda lakukan?

Gue sih nggak nakal. Soalnya gue Ketua OSIS. Kalau nakal bahaya. Paling ngajak temen-temen dua angkatan cabut ke Dufan. Kenakalan perempuan? Ada lah [tertawa]. Tapi gue nggak terlalu ekstrim. Gue istilahnya maen rapih. Yang tahu temen-temen deket gue doang. Kalau banyak yang tahu, itu berita nggak bagus. Nanti imej gue, ooh suka maen cewek. Nanti cewek-cewek ngelihat imej gue nggak bagus.


Q4

Dulu, publik mengenal Anda hanya sebagai pacar Titi Kamal, sekarang orang mengenal Anda sebagai Christian Sugiono. Perasaan Anda soal ini?

Seneng aja. Sekarang gue terjun di sinetron jadi banyak yang tahu. Tapi nggak apa-apa juga sih dipandang begitu [jadi pacarnya Titi Kamal--red]. Soalnya, Titi juga imejnya bagus dipandang orang-orang. Daripada ada orang bilang begini, ‘Eh lo pacarnya Ratu Felisha ya?’ [tertawa]. Itu nggak oke. Psycho.


Q5

Banyak laki-laki di luar sana, membayangkan bagaimana rasanya jadi pacar Titi Kamal. Bagaimana sih sebenarnya rasanya?

Enak [tertawa]. Gue hanya bisa menghimbau cowok-cowok di luar sana, teruslah bermimpi! [tertawa]. Jadi pacar Titi apa ya enaknya? Ya mungkin seperti yang dibayangkan orang-orang. Apa yang lo bayangkan itu benar! [tertawa].


Q6

Di film Jomblo, Anda memerankan karakter Doni, laki-laki yang mudah mendapatkan perempuan dan mudah bercinta. Seberapa mirip karakter itu dengan Anda?

Sekarang jauh banget. Tujuh tahun terakhir ini jauh. Dulu, lumayan dekat. Itu masa-masa gue nakal ya di jaman dulu. Tapi nggak terlalu parah kayak si Doni. Tiap cewek diembat. Kalau gue milih-milih. Yang bisa jaga mulut dan jaga diri [tertawa].


Q7

Kalau ada yang bertanya, berapa banyak perempuan yang sudah Anda tiduri?

Gue nggak akan jawab lah! Berapa juga udah lupa! Nggak deh. Becanda. [ngakak].


Q8

Apakah Anda selalu mendapatkan perempuan yang Anda inginkan?

Ya bisa dibilang, delapan puluh lima persen iya. Misalnya gue usaha dikit, Alhamdulillah dapet, ciee Alhamdulillah. Gawat nih interview-nya. Gue mesti milih-milih kata [tertawa]. Rata-rata mereka nggak mau serius. Mereka maunya senang-senang.


Q9

Serius dalam arti komitmen?

Ya gue juga nggak mau [tertawa]. Udah lah, interviewnya jangan terlalu berbahaya.


Q10

Takut dibaca Titi ya [tertawa]. Anda tipe yang takut sama pacar?

Gue nggak takut sama pacar. Gue takut sama diri gue sendiri kalau nggak bisa pacaran lagi dengan Titi [tertawa]. Gue takut gue melakukan hal yang salah dan berakibat buruk.


Q11

Tadi Anda bilang, delapan puluh lima persen. Berarti Christian Sugiono pernah ditolak perempuan ya?

Pernah doong! Dua kali. Waktu SMA dan pas lulus SMA. Tapi gue rasa cewek itu nyesel ya [tertawa]. Tapi, perasaan gue sama cewek itu juga nggak terlalu gede. Iseng-iseng berhadiah. Nggak dapet ya cari yang lain.


Q12

Infotainment sepertinya selalu ingin tahu perkembangan kisah cinta Anda. Perasaan Anda soal ini?

Gue juga bosen tuh. Apa infotainment nggak ada pertanyaan lain? Dari awal gue diinterview infotainment tahun 2002 sampai sekarang, selalu ada pertanyaan begitu. Gue pulang dari Jerman kan kepergok jalan sama Titi tuh. Ditanya ‘kapan kawin?’ Sampe kemaren gue wawancara di sini [lokasi syuting--red], pertanyaannya masih itu. Meskipun nanya yang lain, selalu diselipin pertanyaan begitu. Harusnya gue bilang, oh mbak berarti nggak nonton infotainment. Soalnya, jawabannya ada di infotainment yang lalu [tertawa].


Q13

Mana menurut Anda yang lebih baik. Permainan gitar atau akting Anda?

Ya permainan gitar gue dong. Kan gue anak band soalnya. Bukan aktor! [tertawa]. Walaupun duit gue dari akting. Mumpung lagi dipake, ya manfaatkan. Istilahnya gue lagi di ladang emas. Dikasih sekop. Ya sekop terserah lo deh. Keruk selagi bisa. Kalau udah nggak bisa, ya emas yang pernah gue keruk akan gue manfaatkan.


Q14

Jawab dengan jujur. Bagaimana penilaian Anda soal sinetron yang Anda bintangi?

Kalau sinetron yang gue maenin sih baguus! Dari ratingnya aja tiga. Kalau kualitas sih, ya sama aja kayak yang lain! [ngakak]. Tapi gue rasa ini yang paling bagus dari yang ada. Soalnya yang lain ceritanya banyak yang aneh. Ada yang hantu lah, males banget! Paling normal ya ini, Pengantin Remaja. Mungkin kalau baik segini [menunjukkan batas dengan tangan], ya sinetron gue ini, segini lah [menunjukkan setengahnya].


Q15

Kalau Anda santai di rumah, apakah Anda mau mengisi waktu luang Anda dengan nonton sinetron?

Pilihan terakhir gue. Kalau misalnya jaringan tv kabel di rumah gue putus, jam tujuh malem, nggak ada acara lagi kan. Paling nonton sinetron gue doang. Gue nonton buat review gue doang. Kalau lagi syuting jalan ceritanya kan nggak nyambung.


Q16

Kalau ditawari main sinetron bertema hidayah?

Aduh jangan deh. Main paling berapa episode, tapi habis itu nggak ada yang nawarin lagi. Mumpung masih muda, dan gue masih banyak yang make, ya udah. Sebelum gue dikasih peran bapak-bapak. Soalnya gue pengin peran yang muda. Begitu umur gue udah jadi bapak-bapak, gue nggak mau maen. Kecuali di Indonesia, udah ada film kayak James Bond yang emang peran utamanya bapak-bapak. Di sini kan, peran utamanya anak muda, ABG. Gue nggak pengin antiklimaks. Misalnya, gue sekarang dapet peran utama, besok nggak, berarti turun dong. Gue pengin kayak Kurt Cobain. Nggak pernah ada momen turun karirnya. Nggak kayak Michael Jackson.


Q17

Di Indonesia Anda bintang film, sementara waktu di Jerman kerja di restoran. Apa yang Anda rindukan dari kehidupan di sana?

Banyak banget. Gue rindu kehidupan bisa melakukan apapun seenak jidat gue tanpa ada orang yang mengomentari. Dan kebersihan alamnya. Gue bisa olahraga, jalan kaki. Di sini, gue di mobil melulu. Kehidupan benar aja, sebagai orang. Istilahnya, kalau gue datang ke tempat-tempat seperti Plaza Senayan agak oke. Cuma, kalau datang ke tempat yang istilahnya kelas C D, agak susah. Kayak kemaren gue dating ke Bengkel Cipete Kolong. Berubah aja. Oke gue jadi lebih diservis, enak. Tapi, jadi beda aja. Gue mau ngapain kayak di sana ada sepasang mata ngomongin. Nggak tahu ngomongin bagus apa nggak.


Q18

Tapi, ada kalanya itu menyenangkan ya

Kalau gue dating ke klub, banyak cewek cantik terus ngomongin gue, itu seneng. Kalau jalan sama Titi, gue jadi takut [tertawa]. Nggak lah. Cewek-cewek nggak akan begitu kalau gue jalan sama Titi.


Q19

Dalam hal perempuan. Godaan yang bagaimana yang menurut Anda besar?

Cewek-cewek nakal yang agresif. Apalagi kalau semuanya bagus, mukanya sama badannya. Mereka approach ke gue. Godaan banyak. Dan memang ada. Istilahnya, kalau gue pengin nakal atau mengkhianati pacar, gue bisa. Tinggal meladeni aja. Tapi, gue tipe cowok setia. Tolong dibold dan diunderlined ya. [tertawa].


Q20

Apa enak dan tidak enaknya jadi Christian Sugiono?

Gue punya pacar yang baik dan cantik dan dibayangkan cowok-cowok [tertawa]. Gue banyak bisa melakukan sesuatu. Gue bisa berubah jadi bukan siapa-siapa di luar negeri. Dan di sini bisa jadi siapa-siapa. Tidak enaknya, nama Jawa, kok tampang bule? [ngakak]. Dan itu tadi, krisis identitas. Di luar dibilang Asia, di sini dibilang bule. Jadi, gue nggak tahu siapa sebenarnya gue ini! [tertawa].

dari edisi Desember 2006. foto: Bayu Adhitya

Tentang Mimpi Masa Kecil

Ini baru terlintas beberapa saat lalu.

Kamu pasti punya keinginan atau impian sejak kecil. Bisa jadi berupa hal yang kamu inginkan atau kamu lakukan. Ini beberapa mimpi masa kecil saya yang bisa terwujud [walaupun kadarnya tidak seideal seperti yang diimpikan].

Velg Bintang
Pertengahan tahun ’80-an, rasanya salah satu trend anak kecil adalah punya sepeda BMX. Saya termasuk yang beruntung bisa dibelikan. Tapi, begitu melihat ada anak lain dengan velg bintang, saya jadi iri. Velg itu terlihat lebih jantan. Lebih gagah. :P Hingga trend berganti ke trend mountain bike, saya tidak pernah punya sepeda BMX dengan velg bintang. Dan ketika kuliah dibelikan Honda GL Pro, mimpi itu datang lagi. Saya ingin motor saya ber-velg bintang alias racing. Tapi ayah tidak pernah mau mewujudkannya. Dibelikan motor saja sudah bagus sebenarnya. Dan saya terlalu bokek untuk bisa menabung guna membeli velg racing. Baru lebaran tahun 2006 kemarin saya bisa mewujudkannya. Ah, indahnya kebijakan THR! Alhamdulillah.

Jaket Kulit
Sejak menonton film Grease, saya jatuh cinta dengan jaket kulit ala bikers. Mungkin karena alasan gagah atau jantan. Hehe. Saya baru bisa mendapatkan jaket kulit tahun ’99. Belum seperti yang saya inginkan. Hanya jaket kulit biasa, dengan dua kantong di samping. Maklum, pemberian ayah. Akhirnya, di tahun 2001 saya bisa memiliki jaket kulit idaman. Itu pun karena dapat uang kaget setelah ikut pameran mewakili kampus.

Ikut pertandingan bela diri
Saya penggemar film-film silat atau kung fu. Dan saya selalu ingin ada di dalam pertandingan bela diri, satu lawan satu. Disaksikan banyak orang, seperti di banyak film. Ini terwujud medio ’96. Di SMA, saya ikut Merpati Putih. Saya jadi Ketua Kelompok Latihan, alias ketua ekskul. Nah, waktu ada pertandingan silat antar SMA se-Jawa Barat, saya ikut jadi atlet. Bukan semata-mata karena saya jago sebenarnya. Tapi karena pengaruh kekuasaan. Haha. Saya berhasil meyakinkan sekolah untuk mendanai atletnya, di setiap kelas. Saya masuk di kelas C pria [50 – 55 kg]. Kebetulan, di kelas itu, hanya saya yang aktif. :D Pertandingan pertama, saya bisa mengalahkan si lawan pertama. Tapi di pertandingan kedua, saya kalah oleh anak yang sosok pendek kekarnya mengingatkan saya pada karakter Chong Li di Bloodsport dengan kalimat “You are next”-nya itu. Mungkin karena sejak awal saya sudah ciut melihat sosoknya. Mungkin karena saya kurang tidur malam sebelumnya. Mungkin karena saya yang hanya berlatih tiga bulan. Pertandingan ini membuat gigi saya patah.

Bicara di depan banyak orang
Sejak kecil saya sering membayangkan diri saya ada di depan banyak orang. Ratusan mungkin ribuan. Dan mereka menuruti apa yang saya katakan. Ini terwujud di kampus di acara ospek dan pertandingan antarkampus. Tahun ’99 dan 2000, lapangan basket Dipati Ukur kampus Unpad jadi tempat bertemunya fakultas se-Unpad. [btw, Donna Agnesia salah satu bintangnya di pertandingan ini. Dia atlet dari Hukum Unpad. Jadi, kalau mereka bertanding, dijamin mata segar.] Era itu, saya sering bawa TOA ke sana. Saya ledeki kampus lain [kecuali Donna. Soalnya susah meledeknya, Sudah cantik, jago pula. Hehe]. Saya ajak teman-teman kampus untuk ikut berteriak menyemangati tim kami. Ah, sungguh sebuah onani psikilogis yang menyenangkan. :P

Manggung dengan kelompok musik
Pertama kali mimpi ini terwujud, medio 2000. Karena saya sering berjaket kulit, rambut gondrong, akhirnya teman saya, Dido yang juga vokalis band skinhead bernama The Real Enemy mengajak saya jadi vokalis tamu membawakan “The KKK Took My Baby Away”. Dari situ, teman lain mengajak saya di band mereka yang membawakan lagu-lagu The Rolling Stones. Saya bermain harmonika. Mereka mengajak saya karena sering mendengar saya bermain harmonika ketika nongkrong. [oya, harmonika adalah salah satu impian masa kecil saya juga, yang baru terwujud ketika SMA]. Padahal, saya bermain harmonika untuk mengusir rasa bosan waktu SMA. Bukan untuk orang lain. Maklum, saya sering mendapati sendirian di sekolah. Teman se-angkatan sudah pulang. Adik kelas masih belajar. Satu-satunya teman, ya harmonika. Hasilnya, saya bermain harmonika dengan jelek di dua band. Cikuda Stones Complex yang berkembang jadi Fikom Stones Lovers. Tahun 2002, saya diajak bergabung di band kampus bernama Lalieur Laleuleus Paregel. Kali ini saya memainkan peran saya dengan baik. Sebagai MC juga provokator juga propagandis. Dan bernyanyi di bagian refrain. Kalau ramai-ramai, suara fals saya tidak terlalu terdengar. Hehe.

Ada di media massa
Mungkin ini sisi dari diri saya yang ingin dapat perhatian, dikenal banyak orang. Makanya, sejak SMP hingga kuliah saya suka corat-coret tembok. Dan ketika saya diminta siaran di I Radio Jakarta, tentu saja saya senang bukan main. Salah satu anugerah paling indah dalam hidup. Tanpa susah payah, saya bisa siaran di prime time selama tiga bulan. Sayang, GM Trax sialan menjegal karir saya. Untungnya, itu masih bisa tersalurkan lewat majalah. Dan terima kasih juga pada teknologi internet tentunya. Ini membuat orang dengan mimpi yang sama seperti saya cukup terbantu.

Termasuk juga kamu, mungkin.

Friday, January 12, 2007

Menurut Kamu, Aku Ganteng Nggak Sih?

Kata apa yang kamu gunakan untuk mengganti "cakep" dengan kata yang sama baiknya?

Maksud saya begini, ketika ada teman yang bertanya soal apakah perempuan A atau lelaki B cakep, dan kebetulan orang yang dibicarakan itu nyatanya tidak cakep menurut versi kita, biasanya kita sedikit memutar otak untuk mencari kata yang tepat. Tentu saja berbeda kalau kondisinya memang orang yang dibicarakan itu, bukan teman kita.

"Si A kayak gimana sih orangnya, cakep?"

Kita pasti bakal langsung menjawab, "Nggak!"

Tapi, kalau yang dibicarakan itu teman kita...

"Si A cakep nggak sih?"

...terdiam beberapa detik. Mencari kata yang tepat, karena walau bagaimanapun itu teman kita yang sedang dibicarakan. Dan setelah mendapat kata yang tepat, kita paling menjawabnya dengan "Baek", "Keren", "Pinter", "Asik", atau "Lumayan lah."

Saya yakin, kamu pernah terlibat dalam situasi begitu. Dan bicara soal kriteria cakep atau ganteng, saya punya pengalaman. Berikut ini, obrolan saya dengan Tetta di suatu hari. Saya lupa, apakah ini obrolan via telepon atau tatap muka.

"Sayang, menurut kamu, aku ganteng nggak sih?"

pacar saya, terdiam beberapa detik...

"Kenapa sih kamu nanya begitu? Kamu kan tau, alesan aku nerima kamu jadi pacar, bukan semata-mata karena penampilan."

[hehehe. maklum, jaman jomblo dulu, saya sering bertanya dalam hati, mungkin karena saya berantakan, tidak ganteng, makanya susah dapet cewek. sekarang sih, saya sudah termasuk rapi. rambut pendek, kumis dan jenggot dicukur. dulu, kadar ke-mamang-mamangan saya sangat besar. hahaha.]

"Iya, tapi aku pengen tau, menurut kamu, aku ganteng nggak?"

"Hmmm. Menurut kamu, siapa coba orang yang bisa disebut ganteng?"

...

"Brad Pitt."

"Nah, berarti sama kan persepsi kita soal standar ganteng. Silakan nilai aja sendiri."


...

:))

Monday, December 18, 2006

Rock n' Roll di Malam Minggu


Hujan mengguyur Bandung, Sabtu [16/12] kemarin. Di depan gedung AACC di jalan Braga, banyak orang berkerumun. Di bawah tenda kecil mereka berteduh. Mereka orang-orang yang kurang beruntung. Bukan karena harus berdesakan di bawah tenda, berlindung dari siraman air hujan. Tapi karena tidak bisa mendapatkan tiket masuk ke launching full album perdana berjudul Visible Idea of Perfection dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, yang lebih dikenal dengan nama The S.I.G.I.T.

Saya melewati gedung itu jam delapan malam. Sempat mengira pertunjukkan belum dimulai. Sempat berpikir untuk makan malam dulu. Lantas, ketika saya lewat untuk kali keduanya, baru saya lihat kertas bertuliskan SOLD OUT. Dan begitu masuk ke dalam ruangan, ternyata The S.I.G.I.T. sudah membawakan lagu kedua.

Tata suaranya dahsyat. Tata cahayanya pun tidak kalah menarik. Saya selalu menyukai pertunjukkan di tempat kecil dan ruangan tertutup. Suasananya lebih terasa akrab. Rupanya The S.I.G.I.T. sudah memerhatikan pakaian panggung mereka. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya menyukai pakaian yang mereka kenakan di dua pertunjukkan mereka yang saya saksikan. Malam itu di AACC dan waktu mereka bermain di Pasar Seni ITB. Pakaian mereka menimbulkan attitude yang asik dilihat. Yah, setidaknya Rekti tidak mengenakan pakaian seperti di cover Trax beberapa bulan lalu. Hehe. Agak menggelikan. Entah karena pose-nya. Entah karena memang pakaiannya terlihat kurang bagus.

Malam itu, mereka tidak banyak melakukan aksi panggung yang liar. Beberapa tahun lalu, saya sering mendengar cerita kalau The S.I.G.I.T. aksi panggungnya cukup liar dan atraktif. Tapi, saya belum pernah menyaksikan itu. Entah kabar itu dilebih-lebihkan teman saya. Entah memang karena mereka sekarang sudah lebih tenang di panggung. Walau begitu, saya rasa mereka masih bisa menghadirkan sebuah rock n’ roll show yang menarik.

Mereka salah satu rock n’ roll band lokal yang menarik perhatian saya sejak EP pertamanya dirilis. Waktu pertamakali mendengarkan EP itu, saya langsung tahu kalau anak-anak itu punya potensi. Sebagai seorang pecinta rock n’ roll music, saya bisa merasakan spirit rock n’ roll mereka. Dan itu cukup buat jadi salah satu modal. Kini, di album perdananya, saya rasa pelafalan bahasa Inggris Rekti terdengar lebih baik jika dibandingkan di EP. Dan mereka juga bermain lebih tenang. Kurang "raw" dan liar memang jika perbandingannya EP mereka. Tapi, saya menyukai karya mereka di album perdana ini.

Saya tahu, rock n' roll yang mereka bawakan adalah pengulangan dari rock n' roll music yang dibawakan rock n' rollers terdahulu [ini salah satu topik obrolan dengan sahabat saya ketika saya ajak ke konser itu]. Tapi, tetap saja, penafsiran anak-anak itu akan rock n' roll versi mereka, membuat saya terkagum.

Menyaksikan The S.I.G.I.T. entah kenapa saya selalu teringat beberapa nama rock n’ roll band lokal lainnya. Teenage Death Star, saya suka band ini. Sekelompok orang-orang berumur membawakan rock n’ roll dengan skill yang katanya pas-pasan, tapi tetap bisa membawakan rock n’ roll dengan penuh penjiwaan. Speaker 1st. Ahem. Saran saya dari dulu untuk mereka selalu sama, cari vokalis baru. Buat saya, gaya bernyanyi vokalis Reda terasa dipaksakan. Ingin terdengar slenge’an. Urakan. Padahal jadinya tidak asik terdengar. Sama seperti penampilan panggungnya. Menjatuhkan stand mik beberapa kali, dengan mata merem melek seperti orang mabuk, padahal sadar total [ini berdasarkan pengamatan pertama dan terakhir saya, waktu mereka launching album perdana sekira dua tahun lalu].

Changcuters. Ah, dengan The S.I.G.I.T. sebagai pembanding, anak-anak ini terdengar seperti Project Pop membawakan rock n’ roll! Tapi, setidaknya saya rasa mereka jujur. Karena baru segitu yang mereka bisa, mereka juga tidak memaksakan ingin terdengar lebih dari itu. Karena vokalis Tria memang pada dasarnya humoris, akhirnya yang keluar di panggung, ya humor juga. Dan The Brandals. Mereka ada di liga yang berbeda menurut saya dengan The S.I.G.I.T. Musik The Brandals lebih banyak nuansa The Who dan The Rolling Stones-nya buat telinga saya. Lebih ringan di kuping. Sedangkan The S.I.G.I.T. lebih banyak nuansa Led Zeppelin dan brit pop-nya. Sound gitar Rekti dan Fahri lebih heavy. Lebih gagah. Dan liukan serta engkingan vokal Rekti yang bluesy, kadang sedikit mengingatkan saya pada liukan vokal Robert Plant. Hasil yang baik dari pertemuan pengaruh brit pop dan Led Zeppelin.

Di tengah-tengah pertunjukkan, saya melihat tiga orang laki-laki berkeringat telanjang dada. Badannya kekar. Keluar dari kerumunan bagian depan. Entah mamang-mamang dari mana. Atau memang mereka bagian dari crowd malam itu? Yang jelas, saya kaget melihat mereka. Maklum, penampilannya berbeda dengan sebagian besar crowd yang datang.

Tapi, ada kejutan yang manis malam itu. Ketika mereka tampil dengan empat orang bintang tamu; Arina dan Rico Mocca, Risa Homogenic, Elang Polyester Embassy—semuanya artis FFWDRecords. Salah satu bagian paling berkesan dari konser malam itu. Apalagi melihat dua vokalis perempuan di kanan dan kiri Rekti, bergoyang dan bernyanyi sambil bertepuk tangan di bawah tata cahaya yang apik.

Saya mengangkat topi untuk anak-anak FFWDRecords. Beberapa waktu lalu, saya pernah bicara dengan Felix Dass si pelukis langit soal “kebodohan” mereka membiarkan LA Lights memberi nama kompetisi band dengan nama Indie Fest, tanpa mengeruk keuntungan besar dari LA Lights—setidaknya begitu kata Felix.

Ternyata, benar kata Felix, keputusan mereka untuk tidak mengeruk uang itu, berdampak pada jangka panjang. Sudah dua konser mereka gelar dengan sponsor LA Lights. Mungkin ada yang lain, tapi saya tidak tahu. Setidaknya, dua kali saya datang ke launching album FFWD, LA Lights selalu ada. Saya yakin, kehadiran sponsor itu membantu penyelenggaraan acara. Kalau begitu, saya tarik ledekan saya, soal “kebodohan” FFWD yang membiarkan nama Indie Fest dipakai. Hehe. Tapi, ini tidak menghilangkan fakta bahwa masih ada situs lalightsindiefest.com yang menggelikan itu. Kata Felix, nanti FFWD akan berpartisipasi di situ situ. Mudah-mudahan, isinya jadi tidak menggelikan.

Kembali ke konser The S.I.G.I.T. Sempat terjadi drama panggung standar. Ketika mereka pamit dari panggung, padahal baru sekira satu jam bahkan kurang. Crowd agak bingung. Termasuk saya. Benarkah pertunjukkan berakhir? Lampu belum dimatikan soalnya. Dan pamitnya terasa tanggung. Lantas, setelah beberapa detik, crowd berteriak meminta lagi. Dan The S.I.G.I.T. pun hadir kembali di panggung.

Di set kedua ini, mereka membawakan “Search and Destroy” dari Iggy Pop and The Stooges. Dan di sini pula, Rekti mulai bermain sedikit liar. Bermain gitar sambil tiduran. Dan lebih banyak bergoyang dibandingkan set pertama. Mungkin karena sudah akan berakhir, dia mau mengeluarkan enerji lebih banyak. Mungkin mereka sadar diri, staminanya tidak sekuat anak-anak Superman Is Dead. Baru segitu saja, kaki Rekti kram.

Jam sembilan malam lebih [saya lupa lebih berapa tepatnya], pertunjukkan berakhir. Saya bertemu Iyo dan Ryan dari DRS, di luar, yang terlambat datang. Mereka mengira pertunjukkan tidak tepat waktu. Seperti saya juga, yang sempat mengira, paling cepat The S.I.G.I.T. naik panggung jam sembilan malam. Seperti halnya konser Polyester Embassy. Rupanya kali ini, acara dimulai tepat waktu. Ini sesuatu yang bagus. Mendidik penonton untuk tepat waktu juga. Setidaknya, mereka harusnya berpikir kalau datang ke acara yang digelar FFWD lagi, pasti tepat waktu.

Di luar, saya lihat ada banner acara. Di situ tertulis, Balck Amplifier dan Horese. Padahal, seharusnya Black Amplifier dan Horse. Saya jadi teringat salah satu kesalahan ketik yang ada di sampul belakang album Poleyster Embassy; ffedrecords.com. Kata Felix, itu kesalahan Helvi. Dan saya jadi bertanya-tanya, apakah itu juga karena kesalahan orang yang sama? Hehe.