Friday, January 13, 2012
Monday, January 09, 2012
Menulis Lagi di Sini, Setelah Sekian Lama
Tuesday, April 03, 2007
Tutup
Bukan apa-apa, saya agak kesulitan kalau ingin memuat foto-foto di situs ini. Saya mendapatkan kemudahan itu di multiply.
Nah, saya tunggu kunjungan kamu.
Wednesday, February 14, 2007
Sedikit Soal Global TV
Kemarin malam baru dari syuting Made In
Itu loh, salahsatu acara Global TV.
The Changcuters jadi target, Seurieus bintang tamunya.
Ternyata, pas kami datang, anak-anak The Changcuters masih loading alat ke panggung. Padahal, katanya mereka disuruh datang jam dua siang. Dan Seurieus disuruh datang jam
“Sekitar jam sepuluh lah,” kata salah seorang kru Global TV ketika saya tanya kapan syuting akan dimulai.
Tapi, lewat jam sepuluh, syuting belum juga dimulai. Saya tidak tahu mana saja tim produksi Global TV. Dan melihat itu, saya jadi membandingkannya dengan tim produksi Empat Mata. Bukan apa-apa, tiga kali saya datang ke syuting Empat Mata, mereka tidak pernah lewat dari jadwal. Memang tidak adil juga membandingkan syuting talk show dengan syuting di mana ada band yang tampil live. Dan memang tidak adil juga menilai kinerja dari satu kali syuting saja.
Tapi, pemandangan malam tadi, membuat saya berpikir betapa kru Global TV tidak menunjukkan citra baik dan profesionalisme atau apapun itu. Dan betapa seragam berpengaruh besar terhadap citra baik sebuah televisi.
Kalau Trans TV dan Trans7 perbandingannya, jelas terasa. Saya sebagai orang luar, bisa melihat dengan jelas siapa saja kru dari TV. Kemarin malam, tidak jelas perbedaan antara karyawan TV dengan mamang-mamang atau teteh-teteh yang kebetulan di
Belum lagi, saya mendapat kesan kalau pekerjaan mereka sangat lambat. Padahal, acara itu bukan acara baru. Harusnya mereka sudah tahu dong, bagaimana proses syuting berjalan. Saya tidak melihat kesigapan mereka. Mungkin saya salah, tapi saya melihat mereka bekerja dengan lamban. Dan ini buat saya mengurangi citra positif Global TV.
Lewat tengah malam, syuting baru dimulai. Oke, saya sering mendengar cerita kalau syuting sinetron juga sering molor [dan kamu tau bagaimana kualitas sinetron kita]. Saya kurang paham soal teknisnya, tapi menurut saya, acara yang molor sangat jauh dari jadwal adalah sesuatu yang kurang baik. Dan ini membuat saya berpikir, pantas saja acara itu tidak berkembang dari segi kreatif.
Kurang jelas apa mau mereka. Membuat acara yang mengkritisi band atau membuat tayangan humor dengan basis musik? Belum lagi, hal mendasar yang sering mengganggu saya. Show director, floor director atau apapun itu istilahnya, beberapa kali menyebut nama Seurieus dengan “Seurieus Band”. Ah, saya paling sebal kalau orang menambahkan kata Band di belakang nama band. Jelas-jelas, si band itu tidak memakai kata band di belakangnya. Kalau Ada Band boleh lah dipanggil begitu.
Host-nya sih menggiurkan, Happy Salma. :p Sayang, Happy kurang maksimal di acara itu. Belum lagi, host laki-laki yang terlalu metro seksual. Harusnya, acara begitu dipandu orang seperti Ryan Pellor.
Sialan. Saya jadi bersikap seolah-olah paling tau soal produksi sebuah tayangan di televisi. Ya mungkin kebetulan kalau ada yang baca, dan kenal dengan petinggi Global TV, tolong bilang sama mereka untuk memerbaiki lagi lah kinerja kru mereka.
Thursday, January 18, 2007
20Q Christian Sugiono

Anak band yang jadi aktor bicara soal perempuan, sinetron dan bagaimana rasanya jadi pacar Titi Kamal
Q1
Anda bersekolah di Pangudi Luhur, yang muridnya laki-laki semua. Bagaimana peranan sekolah itu dalam membentuk karakter Anda sekarang?
Karena cowok semua, jadi lebih kompak. Di situ gue belajar arti pertemanan dan kesetiakawanan. Dari segi cewek, gue lebih belajar soal deketin cewek. Cowok semua, ngobrol apa lagi
Q2
Tipe remaja seperti apa Anda waktu SMA?
Gue tipe rata-rata sih, yang suka maen olahraga. Tapi, nggak jocks banget [tertawa]. Tiap istirahat maen voli sama basket. Oh lupa, gue tipe anak band. Gue nge-band melulu. Soalnya nggak ada kerjaan lain. Udah SMA, banyak pensi, banyak band competitor, jadinya lebih termotivasi untuk latihan.
Q3
Kenakalan remaja macam apa sih yang dulu Anda lakukan?
Gue sih nggak nakal. Soalnya gue Ketua OSIS. Kalau nakal bahaya. Paling ngajak temen-temen dua angkatan cabut ke Dufan. Kenakalan perempuan?
Q4
Dulu, publik mengenal Anda hanya sebagai pacar Titi Kamal, sekarang orang mengenal Anda sebagai Christian Sugiono. Perasaan Anda soal ini?
Seneng aja. Sekarang gue terjun di sinetron jadi banyak yang tahu. Tapi nggak apa-apa juga sih dipandang begitu [jadi pacarnya Titi Kamal--red]. Soalnya, Titi juga imejnya bagus dipandang orang-orang. Daripada ada orang bilang begini, ‘Eh lo pacarnya Ratu Felisha ya?’ [tertawa]. Itu nggak oke. Psycho.
Q5
Banyak laki-laki di luar
Enak [tertawa]. Gue hanya bisa menghimbau cowok-cowok di luar
Q6
Di film Jomblo, Anda memerankan karakter Doni, laki-laki yang mudah mendapatkan perempuan dan mudah bercinta. Seberapa mirip karakter itu dengan Anda?
Sekarang jauh banget. Tujuh tahun terakhir ini jauh. Dulu, lumayan dekat. Itu masa-masa gue nakal ya di jaman dulu. Tapi nggak terlalu parah kayak si Doni. Tiap cewek diembat. Kalau gue milih-milih. Yang bisa jaga mulut dan jaga diri [tertawa].
Q7
Kalau ada yang bertanya, berapa banyak perempuan yang sudah Anda tiduri?
Gue nggak akan jawab lah! Berapa juga udah lupa! Nggak deh. Becanda. [ngakak].
Q8
Apakah Anda selalu mendapatkan perempuan yang Anda inginkan?
Ya bisa dibilang, delapan puluh
Q9
Serius dalam arti komitmen?
Ya gue juga nggak mau [tertawa]. Udah lah, interviewnya jangan terlalu berbahaya.
Q10
Takut dibaca Titi ya [tertawa]. Anda tipe yang takut sama pacar?
Gue nggak takut sama pacar. Gue takut sama diri gue sendiri kalau nggak bisa pacaran lagi dengan Titi [tertawa]. Gue takut gue melakukan hal yang salah dan berakibat buruk.
Q11
Tadi Anda bilang, delapan puluh
Pernah doong! Dua kali. Waktu SMA dan pas lulus SMA. Tapi gue rasa cewek itu nyesel ya [tertawa]. Tapi, perasaan gue sama cewek itu juga nggak terlalu gede. Iseng-iseng berhadiah. Nggak dapet ya cari yang lain.
Q12
Infotainment sepertinya selalu ingin tahu perkembangan kisah cinta Anda. Perasaan Anda soal ini?
Gue juga bosen tuh. Apa infotainment nggak ada pertanyaan lain? Dari awal gue diinterview infotainment tahun 2002 sampai sekarang, selalu ada pertanyaan begitu. Gue pulang dari Jerman
Q13
Mana menurut Anda yang lebih baik. Permainan gitar atau akting Anda?
Ya permainan gitar gue dong.
Q14
Jawab dengan jujur. Bagaimana penilaian Anda soal sinetron yang Anda bintangi?
Kalau sinetron yang gue maenin sih baguus! Dari ratingnya aja tiga. Kalau kualitas sih, ya sama aja kayak yang lain! [ngakak]. Tapi gue rasa ini yang paling bagus dari yang ada. Soalnya yang lain ceritanya banyak yang aneh.
Q15
Kalau Anda santai di rumah, apakah Anda mau mengisi waktu luang Anda dengan nonton sinetron?
Pilihan terakhir gue. Kalau misalnya jaringan tv kabel di rumah gue putus, jam tujuh malem, nggak ada acara lagi
Q16
Kalau ditawari main sinetron bertema hidayah?
Aduh jangan deh. Main paling berapa episode, tapi habis itu nggak ada yang nawarin lagi. Mumpung masih muda, dan gue masih banyak yang make, ya udah. Sebelum gue dikasih peran bapak-bapak. Soalnya gue pengin peran yang muda. Begitu umur gue udah jadi bapak-bapak, gue nggak mau maen. Kecuali di Indonesia, udah ada film kayak James Bond yang emang peran utamanya bapak-bapak. Di sini
Q17
Di Indonesia Anda bintang film, sementara waktu di Jerman kerja di restoran. Apa yang Anda rindukan dari kehidupan di
Banyak banget. Gue rindu kehidupan bisa melakukan apapun seenak jidat gue tanpa ada orang yang mengomentari. Dan kebersihan alamnya. Gue bisa olahraga, jalan kaki. Di sini, gue di mobil melulu. Kehidupan benar aja, sebagai orang. Istilahnya, kalau gue datang ke tempat-tempat seperti Plaza Senayan agak oke. Cuma, kalau datang ke tempat yang istilahnya kelas C D, agak susah. Kayak kemaren gue dating ke Bengkel Cipete Kolong. Berubah aja. Oke gue jadi lebih diservis, enak. Tapi, jadi beda aja. Gue mau ngapain kayak di
Q18
Tapi, ada kalanya itu menyenangkan ya
Kalau gue dating ke klub, banyak cewek cantik terus ngomongin gue, itu seneng. Kalau jalan sama Titi, gue jadi takut [tertawa]. Nggak lah. Cewek-cewek nggak akan begitu kalau gue jalan sama Titi.
Q19
Dalam hal perempuan. Godaan yang bagaimana yang menurut Anda besar?
Cewek-cewek nakal yang agresif. Apalagi kalau semuanya bagus, mukanya sama badannya. Mereka approach ke gue. Godaan banyak. Dan memang ada. Istilahnya, kalau gue pengin nakal atau mengkhianati pacar, gue bisa. Tinggal meladeni aja. Tapi, gue tipe cowok setia. Tolong dibold dan diunderlined ya. [tertawa].
Q20
Apa enak dan tidak enaknya jadi Christian Sugiono?
Gue punya pacar yang baik dan cantik dan dibayangkan cowok-cowok [tertawa]. Gue banyak bisa melakukan sesuatu. Gue bisa berubah jadi bukan siapa-siapa di luar negeri. Dan di sini bisa jadi siapa-siapa. Tidak enaknya, nama Jawa, kok tampang bule? [ngakak]. Dan itu tadi, krisis identitas. Di luar dibilang
dari edisi Desember 2006. foto: Bayu Adhitya
Tentang Mimpi Masa Kecil
Kamu pasti punya keinginan atau impian sejak kecil. Bisa jadi berupa hal yang kamu inginkan atau kamu lakukan. Ini beberapa mimpi masa kecil saya yang bisa terwujud [walaupun kadarnya tidak seideal seperti yang diimpikan].
Velg Bintang
Pertengahan tahun ’80-an, rasanya salah satu trend anak kecil adalah punya sepeda BMX. Saya termasuk yang beruntung bisa dibelikan. Tapi, begitu melihat ada anak lain dengan velg bintang, saya jadi iri. Velg itu terlihat lebih jantan. Lebih gagah. :P Hingga trend berganti ke trend mountain bike, saya tidak pernah punya sepeda BMX dengan velg bintang. Dan ketika kuliah dibelikan Honda GL Pro, mimpi itu datang lagi. Saya ingin motor saya ber-velg bintang alias racing. Tapi ayah tidak pernah mau mewujudkannya. Dibelikan motor saja sudah bagus sebenarnya. Dan saya terlalu bokek untuk bisa menabung guna membeli velg racing. Baru lebaran tahun 2006 kemarin saya bisa mewujudkannya. Ah, indahnya kebijakan THR! Alhamdulillah.
Jaket Kulit
Sejak menonton film Grease, saya jatuh cinta dengan jaket kulit ala bikers. Mungkin karena alasan gagah atau jantan. Hehe. Saya baru bisa mendapatkan jaket kulit tahun ’99. Belum seperti yang saya inginkan. Hanya jaket kulit biasa, dengan dua kantong di samping. Maklum, pemberian ayah. Akhirnya, di tahun 2001 saya bisa memiliki jaket kulit idaman. Itu pun karena dapat uang kaget setelah ikut pameran mewakili kampus.
Ikut pertandingan bela diri
Saya penggemar film-film silat atau kung fu. Dan saya selalu ingin ada di dalam pertandingan bela diri, satu lawan satu. Disaksikan banyak orang, seperti di banyak film. Ini terwujud medio ’96. Di SMA, saya ikut Merpati Putih. Saya jadi Ketua Kelompok Latihan, alias ketua ekskul. Nah, waktu ada pertandingan silat antar SMA se-Jawa Barat, saya ikut jadi atlet. Bukan semata-mata karena saya jago sebenarnya. Tapi karena pengaruh kekuasaan. Haha. Saya berhasil meyakinkan sekolah untuk mendanai atletnya, di setiap kelas. Saya masuk di kelas C pria [50 – 55 kg]. Kebetulan, di kelas itu, hanya saya yang aktif. :D Pertandingan pertama, saya bisa mengalahkan si lawan pertama. Tapi di pertandingan kedua, saya kalah oleh anak yang sosok pendek kekarnya mengingatkan saya pada karakter Chong Li di Bloodsport dengan kalimat “You are next”-nya itu. Mungkin karena sejak awal saya sudah ciut melihat sosoknya. Mungkin karena saya kurang tidur malam sebelumnya. Mungkin karena saya yang hanya berlatih tiga bulan. Pertandingan ini membuat gigi saya patah.
Bicara di depan banyak orang
Sejak kecil saya sering membayangkan diri saya ada di depan banyak orang. Ratusan mungkin ribuan. Dan mereka menuruti apa yang saya katakan. Ini terwujud di kampus di acara ospek dan pertandingan antarkampus. Tahun ’99 dan 2000, lapangan basket Dipati Ukur kampus Unpad jadi tempat bertemunya fakultas se-Unpad. [btw, Donna Agnesia salah satu bintangnya di pertandingan ini. Dia atlet dari Hukum Unpad. Jadi, kalau mereka bertanding, dijamin mata segar.] Era itu, saya sering bawa TOA ke sana. Saya ledeki kampus lain [kecuali Donna. Soalnya susah meledeknya, Sudah cantik, jago pula. Hehe]. Saya ajak teman-teman kampus untuk ikut berteriak menyemangati tim kami. Ah, sungguh sebuah onani psikilogis yang menyenangkan. :P
Manggung dengan kelompok musik
Pertama kali mimpi ini terwujud, medio 2000. Karena saya sering berjaket kulit, rambut gondrong, akhirnya teman saya, Dido yang juga vokalis band skinhead bernama The Real Enemy mengajak saya jadi vokalis tamu membawakan “The KKK Took My Baby Away”. Dari situ, teman lain mengajak saya di band mereka yang membawakan lagu-lagu The Rolling Stones. Saya bermain harmonika. Mereka mengajak saya karena sering mendengar saya bermain harmonika ketika nongkrong. [oya, harmonika adalah salah satu impian masa kecil saya juga, yang baru terwujud ketika SMA]. Padahal, saya bermain harmonika untuk mengusir rasa bosan waktu SMA. Bukan untuk orang lain. Maklum, saya sering mendapati sendirian di sekolah. Teman se-angkatan sudah pulang. Adik kelas masih belajar. Satu-satunya teman, ya harmonika. Hasilnya, saya bermain harmonika dengan jelek di dua band. Cikuda Stones Complex yang berkembang jadi Fikom Stones Lovers. Tahun 2002, saya diajak bergabung di band kampus bernama Lalieur Laleuleus Paregel. Kali ini saya memainkan peran saya dengan baik. Sebagai MC juga provokator juga propagandis. Dan bernyanyi di bagian refrain. Kalau ramai-ramai, suara fals saya tidak terlalu terdengar. Hehe.
Ada di media massa
Mungkin ini sisi dari diri saya yang ingin dapat perhatian, dikenal banyak orang. Makanya, sejak SMP hingga kuliah saya suka corat-coret tembok. Dan ketika saya diminta siaran di I Radio Jakarta, tentu saja saya senang bukan main. Salah satu anugerah paling indah dalam hidup. Tanpa susah payah, saya bisa siaran di prime time selama tiga bulan. Sayang, GM Trax sialan menjegal karir saya. Untungnya, itu masih bisa tersalurkan lewat majalah. Dan terima kasih juga pada teknologi internet tentunya. Ini membuat orang dengan mimpi yang sama seperti saya cukup terbantu.
Termasuk juga kamu, mungkin.
Friday, January 12, 2007
Menurut Kamu, Aku Ganteng Nggak Sih?
Maksud saya begini, ketika ada teman yang bertanya soal apakah perempuan A atau lelaki B cakep, dan kebetulan orang yang dibicarakan itu nyatanya tidak cakep menurut versi kita, biasanya kita sedikit memutar otak untuk mencari kata yang tepat. Tentu saja berbeda kalau kondisinya memang orang yang dibicarakan itu, bukan teman kita.
"Si A kayak gimana sih orangnya, cakep?"
Kita pasti bakal langsung menjawab, "Nggak!"
Tapi, kalau yang dibicarakan itu teman kita...
"Si A cakep nggak sih?"
...terdiam beberapa detik. Mencari kata yang tepat, karena walau bagaimanapun itu teman kita yang sedang dibicarakan. Dan setelah mendapat kata yang tepat, kita paling menjawabnya dengan "Baek", "Keren", "Pinter", "Asik", atau "Lumayan lah."
Saya yakin, kamu pernah terlibat dalam situasi begitu. Dan bicara soal kriteria cakep atau ganteng, saya punya pengalaman. Berikut ini, obrolan saya dengan Tetta di suatu hari. Saya lupa, apakah ini obrolan via telepon atau tatap muka.
"Sayang, menurut kamu, aku ganteng nggak sih?"
pacar saya, terdiam beberapa detik...
"Kenapa sih kamu nanya begitu? Kamu kan tau, alesan aku nerima kamu jadi pacar, bukan semata-mata karena penampilan."
[hehehe. maklum, jaman jomblo dulu, saya sering bertanya dalam hati, mungkin karena saya berantakan, tidak ganteng, makanya susah dapet cewek. sekarang sih, saya sudah termasuk rapi. rambut pendek, kumis dan jenggot dicukur. dulu, kadar ke-mamang-mamangan saya sangat besar. hahaha.]
"Iya, tapi aku pengen tau, menurut kamu, aku ganteng nggak?"
"Hmmm. Menurut kamu, siapa coba orang yang bisa disebut ganteng?"
...
"Brad Pitt."
"Nah, berarti sama kan persepsi kita soal standar ganteng. Silakan nilai aja sendiri."
...
:))
Monday, December 18, 2006
Rock n' Roll di Malam Minggu

Saya melewati gedung itu jam delapan malam. Sempat mengira pertunjukkan belum dimulai. Sempat berpikir untuk makan malam dulu. Lantas, ketika saya lewat untuk kali keduanya, baru saya lihat kertas bertuliskan SOLD OUT. Dan begitu masuk ke dalam ruangan, ternyata The S.I.G.I.T. sudah membawakan lagu kedua.
Tata suaranya dahsyat. Tata cahayanya pun tidak kalah menarik. Saya selalu menyukai pertunjukkan di tempat kecil dan ruangan tertutup. Suasananya lebih terasa akrab. Rupanya The S.I.G.I.T. sudah memerhatikan pakaian panggung mereka. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya menyukai pakaian yang mereka kenakan di dua pertunjukkan mereka yang saya saksikan. Malam itu di AACC dan waktu mereka bermain di Pasar Seni ITB. Pakaian mereka menimbulkan attitude yang asik dilihat. Yah, setidaknya Rekti tidak mengenakan pakaian seperti di cover Trax beberapa bulan lalu. Hehe. Agak menggelikan. Entah karena pose-nya. Entah karena memang pakaiannya terlihat kurang bagus.
Malam itu, mereka tidak banyak melakukan aksi panggung yang liar. Beberapa tahun lalu, saya sering mendengar cerita kalau The S.I.G.I.T. aksi panggungnya cukup liar dan atraktif. Tapi, saya belum pernah menyaksikan itu. Entah kabar itu dilebih-lebihkan teman saya. Entah memang karena mereka sekarang sudah lebih tenang di panggung. Walau begitu, saya rasa mereka masih bisa menghadirkan sebuah rock n’ roll show yang menarik.
Mereka salah satu rock n’ roll band lokal yang menarik perhatian saya sejak EP pertamanya dirilis. Waktu pertamakali mendengarkan EP itu, saya langsung tahu kalau anak-anak itu punya potensi. Sebagai seorang pecinta rock n’ roll music, saya bisa merasakan spirit rock n’ roll mereka. Dan itu cukup buat jadi salah satu modal.
Menyaksikan The S.I.G.I.T. entah kenapa saya selalu teringat beberapa nama rock n’ roll band lokal lainnya. Teenage Death Star, saya suka band ini. Sekelompok orang-orang berumur membawakan rock n’ roll dengan skill yang katanya pas-pasan, tapi tetap bisa membawakan rock n’ roll dengan penuh penjiwaan. Speaker 1st. Ahem. Saran saya dari dulu untuk mereka selalu sama, cari vokalis baru. Buat saya,
Changcuters. Ah, dengan The S.I.G.I.T. sebagai pembanding, anak-anak ini terdengar seperti Project Pop membawakan rock n’ roll! Tapi, setidaknya saya rasa mereka jujur. Karena baru segitu yang mereka bisa, mereka juga tidak memaksakan ingin terdengar lebih dari itu. Karena vokalis Tria memang pada dasarnya humoris, akhirnya yang keluar di panggung, ya humor juga. Dan The Brandals. Mereka ada di liga yang berbeda menurut saya dengan The S.I.G.I.T. Musik The Brandals lebih banyak nuansa The Who dan The Rolling Stones-nya buat telinga saya. Lebih ringan di kuping. Sedangkan The S.I.G.I.T. lebih banyak nuansa Led Zeppelin dan brit pop-nya. Sound gitar Rekti dan Fahri lebih heavy. Lebih gagah. Dan liukan serta engkingan vokal Rekti yang bluesy, kadang sedikit mengingatkan saya pada liukan vokal Robert Plant. Hasil yang baik dari pertemuan pengaruh brit pop dan Led Zeppelin.
Di tengah-tengah pertunjukkan, saya melihat tiga orang laki-laki berkeringat telanjang dada. Badannya kekar. Keluar dari kerumunan bagian depan. Entah mamang-mamang dari mana. Atau memang mereka bagian dari crowd malam itu? Yang jelas, saya kaget melihat mereka. Maklum, penampilannya berbeda dengan sebagian besar crowd yang datang.
Saya mengangkat topi untuk anak-anak FFWDRecords. Beberapa waktu lalu, saya pernah bicara dengan Felix Dass si pelukis langit soal “kebodohan” mereka membiarkan LA Lights memberi nama kompetisi band dengan nama Indie Fest, tanpa mengeruk keuntungan besar dari LA Lights—setidaknya begitu kata Felix.
Ternyata, benar kata Felix, keputusan mereka untuk tidak mengeruk uang itu, berdampak pada jangka panjang. Sudah dua konser mereka gelar dengan sponsor LA Lights. Mungkin ada yang lain, tapi saya tidak tahu. Setidaknya, dua kali saya datang ke launching album
Kembali ke konser The S.I.G.I.T. Sempat terjadi drama panggung standar. Ketika mereka pamit dari panggung, padahal baru sekira satu jam bahkan kurang. Crowd agak bingung. Termasuk saya. Benarkah pertunjukkan berakhir? Lampu belum dimatikan soalnya. Dan pamitnya terasa tanggung. Lantas, setelah beberapa detik, crowd berteriak meminta lagi. Dan The S.I.G.I.T. pun hadir kembali di panggung.
Di set kedua ini, mereka membawakan “Search and Destroy” dari Iggy Pop and The Stooges. Dan di sini pula, Rekti mulai bermain sedikit liar. Bermain gitar sambil tiduran. Dan lebih banyak bergoyang dibandingkan set pertama. Mungkin karena sudah akan berakhir, dia mau mengeluarkan enerji lebih banyak. Mungkin mereka sadar diri, staminanya tidak sekuat anak-anak Superman Is Dead. Baru segitu saja, kaki Rekti kram.
Jam sembilan malam lebih [saya lupa lebih berapa tepatnya], pertunjukkan berakhir. Saya bertemu Iyo dan Ryan dari DRS, di luar, yang terlambat datang. Mereka mengira pertunjukkan tidak tepat waktu. Seperti saya juga, yang sempat mengira, paling cepat The S.I.G.I.T. naik panggung jam sembilan malam. Seperti halnya konser Polyester Embassy. Rupanya kali ini, acara dimulai tepat waktu. Ini sesuatu yang bagus. Mendidik penonton untuk tepat waktu juga. Setidaknya, mereka harusnya berpikir kalau datang ke acara yang digelar FFWD lagi, pasti tepat waktu.

